Jalan menuju lokasi air terjun...bersih dan indah
Air terjun Gitgit tampak dari kejauhan
Gumaman tentang sekeliling dan apa yang saya alami. Bergumam itu sama saja seperti halnya berbicara,tapi lirih. Lirih karena hanya saya dan barangkali orang-orang didekat saya saja yang bisa mendengarnya. Jika anda membuka blog ini, maka anda seharusnya mendengar apa yang saya gumamkan, karena anda berarti ada di dekat saya. Terimakasih atas kesediaan anda mendengar apa yang saya gumamkan.
Malam minggu kemarin, saya beserta beberapa penghuni kost di jalan Tukad Balian-Denpasar, mengadakan acara bakar-bakar ikan. Yang pasti seru banget.
Yap kami memang kompak, karenanya hampir setiap ‘wiken’ selalu ada saja acara yang kita adakan. Mulai belanja ke pasar, hang-out bareng, sampai bikin acara bakar ikan seperti yang kemarin kita adakan. Walaupun kami berasal dari berbagai macam latar belakang budaya dan agama, tapi itu tak menjadi halangan bagi kami untuk menjalin persaudaraan. Hmm.......seandainya saja semua orang bisa rukun dengan 'tetangganya' masing-masing, pasti negeri kita akan lebih damai..........:))
Persiapan udah di mulai dari hari jum’atnya nih, kita bagi-bagi tugas. Mbak monic beserta suami bertugas membeli ikan di Pasar Ikan Kedonganan-Jimbaran. Mulai dari Udang, Cumi dan Ikan Kerapu dia borong. Saya beserta mbak Etta dan Bu Dayu (ketua 'gank' kita nih) bertugas belanja sayur dan buah di Pasar Badung.
Hari Sabtunya dari pagi, kita semua udah sibuk dengan acara persiapan.
Sekitar pukul 19.00 Wita acara bakar-bakar kita mulai……….hmmm, dari aroma ikan segar yang terkena arang saja, sudah dapat saya bayangkan nikmatnya ikan bakar itu. Para lelaki yang bertugas membakar ikan, dan kita para ibu-ibu membikin sambal matta (khas bali) resep dari Bu Dayu yang oke punya, dan sambal terasi ibu nya Mbak Etta, yang pedesnya nendang banget deh.
Setelah hampir satu jam udang, cumi, dan ikan sudah menanti untuk disantap. Walaupun sempat diwarnai oleh hujan yang membuat sedikit kalang kabut, akhirnya sukses juga acara bakar ikan kita. dan tibalah waktunya makan. Yummmy....Perut yang memang sengaja aku kosongin untuk momen inipun sampai merasa 'begah' karena muatannya yang terlalu berlebih akibat lapar mata melihat berbagai sajian yang sayang untuk dilewatkan, hehehe.........rakus ni.
Dalam hati saya bersyukur punya kesempatan kost di sini. Dimana saya sempat mengenal para penghuninya yang sangat enak dan nyambung untuk berteman dan sesekali saling 'curhat'...:D
Meski sudah menikmati hampir 3 minggu libur lebaran, rasanya seperti belum puas hati untuk tidak berlibur lagi. Ajakan teman untuk refreshing, keluar dari hiruk pikuk kota denpasar menuju pedalaman Bali guna mereguk segar hawa pegunungan tak mungkin akan kutolak :D. Dan hari minggu kemarin saya sekeluarga bersama teman dan juga keluarganya berangkat menuju Kintamani. Udara panas yang menyerang Denpasar
akhir-akhir ini, seperti mencari balasnya di tempat dingin Kintamani.
Danau Batur berada diantara Gunung Batur dan Gunung Abang. Konon nama Gunung dan Danau Batur berasal dari keyakinan masyarakat setempat bahwa Gunung Batur adalah ‘batur’ atau pembantu dari Gunung Agung.
Dari Kota Denpasar Danau Batur bisa dicapai dalam waktu 2 jam dengan membawa kendaraan sendiri. Tapi bagi Anda yang tidak membawa kendaraan sendiri, untuk dapat mencapai lokasi Gunung Batur bisa menggunakan taksi atau menyewa mobil. Anda juga dapat bergabung dengan sebuah tour yang banyak ditawarkan oleh agen perjalanan untuk mengunjungi Gunung Batur dan Danau Batur.
Pemandangan di sini sangatlah elok, dilihat dari atas ataupun langsung di sisi danau sama cantiknya. Namun sayang, ditengah keasyikan kami menikmati keindahan Danau Batur ini, ada sedikit gangguan yang (maaf) cukup menyebalkan dari para penjaja cinderamata. Meraka dengan cara sedikit memaksa mulai menawarkan dagangannya. Bahkan ada yang cenderung berkata kasar. Yang tadinya tidak berniat sama sekali untuk membeli, akhirnya dengan terpaksa jadi membeli, hanya agar kami bisa ditinggalkan. Sebenarnya apabila mereka tidak terlalu ‘agresif’ kitapun akan enak dalam memilih dan membeli dagangannya.
Tanpa terasa hari telah siang, pantas saja perut sudah ‘berteriak’ minta diisi. Akhirnya kami meninggalkan kawasan ini dan berpindah ke salah satu restoran yang berada tidak terlalu jauh. Menu yang dijajakan memang terbatas, hanya ada Ikan Nila dengan variasi masakan digoreng, dibakar dan dibuat sup. Ikan yang digoreng lebih mantap rasanya daripada menu yang lainnya. Dan semua itu menjadi lebih sempurna dengan pemandangan yang menemani makan siang kita. Wow………..tak kan terlupakan.
Selain tempat makan, pengelolanya juga melengkapi dengan tempat pemancingan. Sembari menunggu masakan yang telah kita pesan datang, kita bisa memanfaatkan waktu dengan memancing. Apabila kita berhasil mendapatkan ikan, ikan tersebut bisa kita bawa pulang. Tentu saja kita harus membayarnya terlebih dahulu sesuai dengan berat dan jenis ikannya.
Untuk anda yang ingin menginap, tempat ini juga menyediakan bungalow. Sebuah penginapan yang sangat romantis, karena berada persis di tepi danau. Cocok deh untuk anda yang ingin berbulan madu. Tetapi sebaiknya anda pesan terlebih dahulu, karena bungalow yang ada hanya berjumlah 4 saja. Dengan variasi harga 350-450ribu/hari saja anda sudah bisa menikmati indahnya Danau Batur sepuasnya dari tempat yang lebih privat.
Setelah puas mencumbui keelokan Danau Batur dan juga jepret sana-sini, kamipun dengan sedikit enggan beranjak pulang.
Label: Batur, Danau, Danau Batur, Gunung Abang, Gunung Batur, Kintamani
Ketika saya menikmati indahnya sunset di Pantai Petitenget, entah kenapa angan saya terbang ke bait-bait puisi yang pernah saya terima ketika swami melamar dulu :)).
Kini saya lebih bisa meresapi apa yang dimaksud oleh swami dalam puisinya. Semoga tidak salah dalam menterjemahkannya dalam laku perbuatan.
Kuminta Engkau menjadi Cakrawalaku
Garis itu adalah pandangan
Antara langit dan bumi bertemu
Antara luasnya samudera dan maha luasnya semesta bertemu
Antara keinginan dan kegelisahan dipertemukan
Garis itu adalah batas
Batas dari yang tidak berbatas
Batas yang tidak memiliki batas
Batas dari kemunafikan dan kesombongan
Garis itu adalah tempat
Tempat matahari meletakkan sinarnya
Tempat janji-janji itu disematkan
Tempat keinginan-keinginan dikumpulkan
Tempat kebinalan hidup diistirahatkan
Kumpulan cita-cita ku ada di garis itu
Kehendak akhirku ada di garis itu
Gairah hidupku ada di garis itu
Kenyataan hidupku pun ada di garis itu
Setelah lalui pengembaraan panjang
Usai lewati petualangan yang tak berujung
Mulai dari alami duka yang tersayat,
hingga nikmati rasa yang terluka
Kehendakku ada padamu
Dan kuminta engkau menjadi cakrawalaku.
Alhamdulillah….tiga hari pertama puasa ramadhan kemarin lancar….semoga bisa tamat hingga akhir bulan (mungkin gak ya..:D ) , amin.
Sedikit rahasia nih, saya sempat keteteran juga dalam menyiapkan menu sahur dan buka-nya. Maklum ini kali pertama saya harus mengerjakan semuanya sendiri. Biasanya sih ‘nunut’ orang tua, jadi taunya beres saja, hehe…. Jadinya menu yang seadanyalah yang bisa saya siapkan. Sepulang dari ‘kerja’ jam 5 sore saya baru belanja ke pasar, dan sesaat sebelum masuk waktu Sholat Isya’ semua masakan baru matang. Untungnya swami belum pernah protes karena terpaksa harus buka puasa setelah sholat taraweh :D.
Untuk pasangan muda yang mempunyai pengalaman serupa, saya punya menu andalan nih, namanya Pokcoy cah cumi kering. Ini merupakan menu favorit kami berdua. Selain karena rasanya yang cocok di lidah, juga karena cara memasaknya yang relatif mudah dan hanya memerlukan sedikit waktu saja.
Bahan :
# Pokcoy / sawi daging 5 ikat
# Cumi telor kering 100 gr
Bumbu :
# Cabe merah 2 buah, diiris tipis
# Cabe rawit 5 buah (sesuai selera), diiris tipis
# Bawang putih 5 siung, diiris tipis
# Bawang merah 5 buah, diiris tipis
# Gula pasir ¾ sdt
# Kecap asin 1 sdt
# Lengkuas 1 ruas jari, di memarkan
# Jahe 1 ruas jari, dimemarkan
# Daun Bawang 2 btg, diiris tipis
# Air 150 cc
Cara memasak :
Siangi pokcoy, ambil daunnya saja, kemudian cuci bersih. Iris cumi kering yang telah dicuci setebal 1 Cm.
Tumis bawang putih hingga harum, kemudian masukkan bumbu yang lain, tumis hingga sedikit layu. Masukkan cumi kering, aduk rata dengan bumbu, tambahkan air dan diamkan 5 menit. Setelah cumi keringnya lunak, masukkan pokcoy, aduk-aduk hingga daunnya cukup matang. Setelah itu tambahkan gula dan kecap asin. Kemudian angkat, dan siap di sajikan.
Masakan ini paling enak dimakan dalam keadaan hangat. Hmmm…..yummmi.
Ketika saya membaca blog seorang teman tentang bahaya kemasan plastik untuk makanan, yang terpikir di benak saya adalah, sudah berapa banyak racun yang masuk dalam tubuh saya?
Lagi-lagi untuk alasan kepraktisan (baca : malas masak), dulu saya lumayan sering jajan makanan di luar. Dan tentu saja plastik yang digunakan sebagai pembungkusnya. Entah dalam wujud kertas bungkus ataupun kantong plastik. Hal ini tidaklah mengherankan karena memang plastik merupakan alat bungkus yang murah meriah, sehingga diminati oleh semua pedagang.
Karena ngeri membayangkan banyaknya penyakit yang mungkin akan 'mampir' di tubuh saya dan swami, kini saya berusaha untuk selalu membawa wadah sendiri apabila terpaksa membeli makanan untuk dibawa pulang. Sedikit repot memang, tetapi saya rasa sepadan dengan manfaatnya. Hitung-hitung berpartisipasi untuk sedikit mengurangi sampah plastik yang berpotensi merusak lingkungan.
Selain itu saya pun mulai selektif membeli wadah-wadah plastik untuk tempat menyimpan makanan. Atas saran seorang teman saya kini menggunakan produk tupperware (wah...promosi nih), yang memang sedikit mahal, tetapi aman dan awet untuk tempat makanan.
Setidaknya saya sudah berusaha untuk meminimalkan resiko terkena penyakit kanker dkk yang sangat berbahaya itu. Namanya juga manusia, hanya bisa berusaha kan? Seandainya dengan mencoba hidup sehat masih saja terkena penyakit, ya di anggap cobaan dari Tuhan saja deh :)).
Dan dalam rangka ingin bergaya hidup sehat, selain menyempatkan waktu untuk olah raga, sekarang saya lebih sering memasak sendiri, dan menghindari penggunaan vetsin ataupun penyedap rasa lainnya. Memang awalnya makanan akan terkesan hambar, tapi lama kelamaan lidah kita akan beradaptasi. Sehingga makanan tetap terasa nikmat, apalagi jika kita memasaknya dengan rasa cinta :p.
Bagi banyak orang di
Variasi sambal banyak sekali, tapi saya hanya bisa membuat dua macam variasi saja, yaitu sambal mentah dan sambal matang, hehehe…minimalis sekali ya. Tapi yang paling penting adalah rasanya cocok di lidah saya dan terutama swami.
# Cabe rawit 5 bh
# Cabe Merah 1 bh
# Terasi ½ sdt
# Garam ¼ sdt
# Gula 1/8 sdt
# Sedikit minyak jelantah (minyak yang telah dipakai untuk menggoreng)
Semua bahan kecuali minyak jelantah, di ulek jadi satu. Setelah cukup halus, baru kemudian tambahkan minyak jelantah untuk menambah kelezatan sambal.
Kalau sambal matang, cabe rawit, cabe merah dan terasi di goreng terlebih dahulu sebelum di ulek. Hanya itu saja yang membedakannya dengan sambal mentah, sekali lagi ini adalah sambal ala saya.
Kalau dari segi rasa sebenarnya sambal mentah lebih mantap, tetapi kita harus selalu membuatnya sebelum makan, karena sambalnya tidak akan tahan lama. Untuk alas an kepraktisan (kata lain dari malas J), saya lebih sering membuat sambal matang.
Walaupun banyak orang menyukai sambal, tetapi selera setiap orang pasti berbeda. Namun kalau anda selama ini belum menemukan sambal yang cocok dengan lidah Anda, ‘monggo’dicoba resep sambal saya.
Selengkapnya...
Dua minggu yang lalu saya beli 2 helm baru, karena helm yang lama sudah 'teriak' minta pensiun. Kondisinya memang sudah tidak layak pakai untuk melindungi kepala sebagaimana fungsi normal-nya. Walaupun di Bali sebenarnya ada kebijakan khusus bagi pengendara sepeda motor yang memakai atribut keagamaan untuk boleh tidak mengenakan helm. Dan Karena saya berjilbab, maka saya pun termasuk yang dapat dispensasi tersebut. Namun karena sudah terbiasa selalu memakai helm, maka ada rasa tidak nyaman apabila tidak mengenakannya pada saat berkendara.
Harga Helm di sini lumayan mahal kalau menurut kantong saya. Dengan merk dan model yang sama, di malang (asal daerah saya) selisih harganya bisa mencapai hampir Rp. 100.000,-. Hmm...tapi demi keselamatan sayapun mau tidak mau harus membelinya.
Akhirnya, 2 helm baru warna favorit, biru dan hitam sejak 2 minggu lalu setia menemani saya dan swami ber-motor-ria.
Tapi...sayang sekali, helm baru saya itu hanya berusia tidak lebih dari 12 hari saja.
Kemarin, karena bosan dengan masakan sendiri ( yang memang rasanya pas-pasan, hehehe...) Berdua swami, kami ingin mencoba menu baru di salah satu tempat makan di jalan Teuku Umar, Denpasar. Malam belumlah larut, baru jam 20.00 WITA, ketika kami asyik menikmati menu makanan yang kami pesan. Karena tempat yang terbatas, dan banyaknya pengunjung, tidak memungkinkan bagi kami untuk berlama-lama menghabiskan makanan kami, mungkin hanya sekitar 30 menit saja.
"LOh"...hanya kata itu yang saya ucapkan ketika sampai di tempat parkir dan tahu kalau helm kami sudah tidak ada di bawah jok motor. Padahal tempat parkirnya hanya berjarak 7 meter dari tempat duduk ketika makan tadi. Entah karena terlalu asyik menyantap menu baru, atau karena sudah terlalu canggihnya pencuri helm itu, sampai-sampai tidak ada yang mengetahui aksi pencurian itu. Dan kami juga bukan satu-satunya korban loh, kira-kira ada 6 pemilik motor yang juga kehilangan helmnya.
Memang banyak tempat di Denpasar ini yang membuat tanda peringatan bertulisan "HATI-HATI DENGAN HELM ANDA, RAWAN PENCURIAN" Atau sejenisnya, intinya di Denpasar memang banyak sekali terjadi pencurian helm. Tapi sayang sekali tidak banyak tempat yang menyediakan jasa penitipan helm. Jadinya terpaksa helm hanya kita amankan di cantelan di bawah jok. Tapi ternyata gunting dan silet dengan mudah membantu pencuri helm melaksanakan aksinya.
Akhirnya, 2 helm saya yang sudah pensiun, kini terpaksa saya berdayakan lagi. Biar butut yang penting anti maling deh :)).
Label: Helm ilang
Kemarin siang, aku mengisi akhir pekan dengan jalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan yang terletak di jalan sunset Road, Badung-Bali. Biasalah ibu-ibu, pasti ada saat ketika jenuh ingin melepaskannya dengan belanja ataupun sekedar melihat-lihat saja. Tergantung kantong lah, lagi kering ga, hehehe....
Nah saat itu sebetulnya aku cuma pengen lihat-lihat saja sih. Setelah puas berkeliling dan bersiap untuk pulang, ternyata ada satu gerai merk ternama yang tadi luput aku lihat, dan...sedang memasang diskon gede-gedean. Hmm.....godaan diskon selalu saja gagal aku hindari. Akhirnya terbungkus juga satu t-shirt dengan salah satu warna favorit, biru.
Dengan rasa puas tapi sedikit bersalah (karena melanggar komitmen sendiri untuk tidak belanja) aku melenggang pulang. Tapi, saat menuju tempat parkir, kembali aku tergoda untuk sekedar minum di sebuah konter fast food. Emang haus banget sih, daripada terkena dehidrasi kan lebih baik beli minum dulu, dan lumayan sambil melonjorkan kaki yang mulai protes minta istirahat.
Kebetulan saat masuk ke dalam 'warung' ini, aku hampir barengan dengan seorang 'bule' yang rupanya berniat sama dengan aku, sekedar menghilangkan rasa dahaga. Ketika dia membayar segelas 'sundae'nya yang seharga 5.500 perak, dia kasih selembar uang 50ribu. Mungkin karena kehabisan uang receh, si kasir minta tambahan uang 500 perak pada si bule, agar kembaliannya pas 45ribu. Ternyata si bule hanya punya koin 200 perak, dan dikasihkanlah ke kasir, dan si kasir bilang kurang 300 perak, tapi si bule tak punya koin lagi. Akhirnya si kasir kembali kasih uang koin 200 perak punya bule tadi, dan bilang "ga usah aja sir", lalu si bule marah, "kalau di kembalikan kenapa tadi minta?".
Sampai si bule sudah duduk, si kasir yang kena omelan bule tersebut, masih aja 'nggrundel', sempet aku tangkap kalimat terakhirnya 'maksud lo'. Eh, ternyata si bule denger dan karena dia juga mengerti bahasa indonesia, akhirnya datang menghampiri kasir tersebut, dan marah-marah lagi. Sampai akhirnya si kasir dan supervisornya minta maaf, barulah dia sedikit tenang dan langsung melangkah keluar meninggalkan si 'sundae' yang masih di makannya sedikit.
Aku jadi jengah melihat 'adegan' tersebut terjadi di konter fast food yang lumayan punya nama lah di Indonesia, yang biasanya selalu menjaga citranya. Hanya karena uang 500 perak, seorang kasir (yang mungkin sudah lelah) dengan sembrono merusak citra tempat kerjanya. Dan juga seseorang yang kebetuan 'bule' tega membentak-bentak orang, di depan orang banyak.
Hmmm............salah paham selalu saja berdampak merugikan.
Akhirnya motor maticku pun ku pacu dengan kecepatan rendah, agar bisa menikmati hijaunya Bali. Untuk menyegarkan pikiran yang ikut terkontamonasi kejadian yang kulihat tadi.
Panorama matahari tenggelam Pantai Kuta masih menjadi primadona para wisatawan baik lokal maupun asing. Hal ini terlihat dari tidak berkurangnya orang yang berkunjung ke sini. Saya termasuk di dalamnya, sampai-sampai hampir setiap akhir pekan saya selalu datang kesini.
24 Februari yang lalu, saya mendapatkan sunset yang teramat indah. Sampai hari ini, itulah sunset tercantik yang pernah saya lihat langsung.
Kuta.....takkan pernah aku bosan menikmati sunsetmu, walaupun saat ini kau lebih sering menyembunyikannya di balik awan.
Selengkapnya...
Jalan-jalan ke Bali tanpa belanja ke Pasar Seni Sukawati?
Ibarat makan sayur tanpa garam, hehehe........terutama bagi kalangan ibu-ibu (seperti saya:)) ).Karena memang pasar seni, yang lebih familiar disebut sukawati saja ini merupakan surga belanja, dan yang lebih membuat kita tergiur adalah harga yang ditawarkan super murah.
Beraneka oleh-oleh untuk sanak famili, tersedia di sini. Mulai berbagai macam alas kaki sampai aksesoris rambut, bahkan pernak-pernik rumah tangga sampai hiasan untuk interior rumah kita (lukisan dll) juga tinggal kita pilih saja.
Setelah lebih kurang 6 bulan saya tinggal di Bali, sudah 10 kali saya ke Sukawati, bukan karena saya doyan belanja ya, tapi selalu ada saja titipan dari para sodara juga teman yang sedang berlibur di sini dan minta diantar ke Sukawati. Jadi lah saya musti bolak-balik ke sini. Demi ikatan kekerabatan dan juga pertemanan, walau harus menempuh jarak yang lumayan jauh menurut saya +/- 10 KM, dengan motor matic dan semangat 45 saya selalu menikmati perjalanan itu. Selain punya kepentingan belanja buat diri-sendiri :)) saya jadi banyak belajar trik untuk belanja di sini. Apalgi kalau bukan seni tawar-menawar harga, hehehehe......
Nah, bagi anda yang akan berlibur dan berbelanja ke Pasar Seni Sukawati, ada beberapa tips dari pengalaman saya, semoga ada manfaatnya deh, antara lain:
# Buatlah daftar siapa dan barang apa saja yang akan anda berikan oleh-oleh. Hal ini penting karena akan menghindarkan anda dari 'lapar mata' begitu melihat banyak barang bagus dan murah ditawarkan di sini.
# Yang tidak kalah penting, siapkan budget maksimal yang akan anda belanjakan. Karena dari pengalaman saya, berapapun jumlah uang kita, pasti akan habis, kalau kita tidak pandai mengontrol diri. Ingat masih banyak tujuan wisata anda.
# Jangan pernah ragu untuk berkeliling dahulu, agar kita mendapatkan barang yang sesuai dengan daftar belanja kita.
# Dan yang paling penting nih, jangan ragu untuk menawar. Setelah beberapa kali belanja, rata-rata harga yang ditawarkan bisa berkurang 40%-60%, tentu saja hal ini sangat dipengaruhi oleh keahlian anda dalam menawar. Ada rasa puas kalo kita berhasil mendapatkan harga yang pantas untuk barang-barang yang kita beli kan?
Jadi, selamat berlibur dan selamat berbelanja................
20 desember 2007,
Bersama dua orang teman yang sedang 'hanimun', acara liburanku hari ini adalah rafting...
asyik....hanya itu yang terbayang dalam benakku.
Perjalanan menuju Sungai Telaga waja yang memakan waktu kurang lebih 1 jam ini sangatlah menyenangkan. Kanan kiri jalan hanya warna hijau sawah dan pepohonan yang tampak di mata, sesekali birunya laut menambah kesegaran indra penglihatanku, hmm.....Bali memang indah.
Menurut guide kita, Telaga waja dalam tingkatan rafting termasuk dalam grade 3. Lumayan nih.
'Dayung maju', teriak guide sesekali, dengan semangat 45 segera kuayunkan dayungku.....sambil menikmati keindahan alam di sekitar yang terjaga kebersihan dan keasriannya. Tiba-tiba, bmm...perahu yang kami tumpangi hampir terbalik kala melewati salah satu jeram. Jantung tanpa dikomando langsung saja berdetak lebih kencang. Untung saja guide dan swamiku yang lumayan bisa diandalkan dalam olah raga ini, dengan sigap bisa menguasai medan, jadinya perahu bisa melaju lagi melewati jeram itu. Alhamdulillah......
Setelah satu jam kami tiba di tempat istirahat, di sini terdapat air terjun yang lumayan bagus. Seketika itu juga kemi langsung bepose ria, jepret sana-sini. Setelah puas, kami lanjutkan lagi mendayung perahu kami yang kata 'guide' kami tinggal separuh perjalanan. Semangat.....
Dan......ketika perjalanan hampir mendekati finish, bbbyyyyyuuuuurrrrrrrrrrrrrr, turunan DAM setinggi +/- 2,5 m kami lewati dengan mulus, walaupun dengan perasaan deg-deg an banget sih.
Hhhuuih, ampun.....tanjakan menuju tempat mandi, istirahat dan makan sangatlah melelahkan, seakan tanpa ujung. Kaki seperti enggan di ajak melangkah lagi, sampai-sampai wajah kami terlihat memerah dan cenderung memucat, hehe...keliatan deh kalo ga pernah olah raga
Walaupun lelah terlihat jelas dari wajah kami, tapi semua itu terbayar dengan pengalaman seru yang tadi kami lewati. Juga keindahanmu telaga waja.....memuaskan dahaga..
Label: telaga waja...
